Hikmah disebalik kewajipan..

Salam mujahidah buat insan bergelar wanita…perkongsian ini adalah hasil bacaan sy dlm ‘Tuntutan Untuk Perempuan’ coretan dari Bediuzzaman SAID NURSI dalam Risalah an-Nur, beliau menulis pesanan ini tatkala dalam kesakitan tetapi atas dasar tuntutan dan permintaan ummah, beliau menguatkan diri untuk menulis pesanan-pesanannya kepada kaum Hawa..begitu terperinci beliau menghuraikan tuntutan terhadap perempuan serta hikmah disebalik tuntutan-tuntutan tersebut..

Hijab adalah fitrah bagi perempuan sehingga mereka membutuhkannya
-Hikmah Pertama
Perempuan diciptakan dalam kondisi lembut dan lemah. Mereka sadar bahwa mereka membutuhkan keberadaan seorang lelaki yang bisa melindungi mereka dan anak-anak yang sangat mereka cintai lebih dari diri sendiri. Oleh karena itu, perempuan memiliki kecenderungan fitrah untuk membuat dirinya dicintai, tidak dibenci, dan tidak ditolak secara kasar oleh orang lain.

Di samping itu, sekitar 7/10 perempuan, terutama yang tua atau kurang cantik, biasanya enggan untuk memperlihatkan uban atau kekurangan mereka. Mereka mempunyai rasa cemburu yang sangat besar sehingga mereka khawatir kalau ada perempuan cantik lainnya yang mengalahkan mereka atau khawatir kalau dilecehkan dan dicela orang. Karena itu, secara fitrah mereka menginginkan hijab untuk menjaga diri agar tidak dilecehkan orang dan agar tidak dituduh suaminya dengan pengkhianatan. Bahkan kita melihat para perempuan yang sudah berusia lanjut lebih semangat untuk berhijab daripada lainnya.
Barangkali tidak lebih dari dua atau tiga saja dari 10 perempuan remaja cantik yang tidak merasa sungkan untuk memperlihatkan aurat mereka karena seperti yang kita ketahui biasanya manusia tidak suka jika dilihat oleh orang yang tidak ia sukai. Bahkan ketika misalnya ada perempuan cantik yang berpakaian tidak sopan karena ingin dilihat oleh dua atau tiga orang pria yang bukan mahramnya, ia tetap akan keberatan dan merasa risih jika dilihat oleh tujuh atau delapan pria lainnya.

Perempuan cantik yang perangainya tidak rusak, ia sangat tidak suka dilihat oleh pandangan jahat dan pandangan yang menimbulkan efek konkret seperti racun, karena perempuan mempunyai tabiat halus dan sensitif. Bahkan kita mendengar sebagian besar perempuan Eropa yang membuka aurat mengadu ke polisi karena ada orang-orang yang terus menerus memperhatikan mereka. Mereka berkata, “Orang-orang yang hina itu terus menerus mengikuti kami dan mengganggu kami”.
Kesimpulannya adalah bahwa peradaban modern yang mencampakkan hijab betul-betul berlawanan dengan fitrah manusia. Sesungguhnya perintah al-Qur’an untuk berhijab, disamping meru¬pakan fitrah, ia melindungi perempuan yang merupakan sumber kasih sayang dan teman setia abadi bagi suaminya dari kerendahan, kehinaan dan perbudakan secara maknawi, serta kemalangan.

Selain itu, secara fitrah perempuan mempunyai kekhawatiran terhadap pria asing sehingga mereka perlu berhijab sebab kenikmatan yang berlangsung selama sembilan menit menjadi pahit dengan adanya beban untuk mengandung janin selama sembilan bulan, dilanjutkan dengan keharusan memelihara anak yang tak mempunyai ayah selama sembilan tahun. Karena peluang kepada itu sangat besar, perempuan sangat khawatir kepada pria yang bukan mahram dan secara naluri menjauhi mereka. Fitrahnya yang lemah akan mengingatkannya untuk segera melindungi diri dan memakai hijab agar tidak membangkitkan syahwat para pria yang bukan mahramnya dan tidak membuka peluang untuk diganggu. Fitrahnya menunjukkan bahwa hijab merupakan benteng dan parit pengaman.

Hijab kerana menjaga kasih sayang-Hikmah Kedua

Hubungan erat dan kecintaan mendalam antara seorang pria dan perempuan tidak hanya merupakan kebutuhan duniawi. Seorang perempuan tidak hanya menjadi pendamping suami di dunia saja, tetapi ia juga men¬jadi pendampingnya dalam kehidupan yang abadi. Oleh karena itu, ia harus berusaha agar tidak menarik perhatian orang lain pada kecantikan dirinya, selain suaminya yang merupakan sahabat dan pendampingnya. Di samping itu, ia juga harus berusaha agar suaminya tidak terusik, murka, dan cemburu.

Selain itu, dengan keimanannya, hubungan seorang suami mukmin dengan istrinya tidak hanya terbatas pada kehidupan dunia ini dan bukanlah kecintaan yang bersifat sesaat yang terbatas hanya ketika isterinya cantik. Lebih dari itu, hubungan tersebut didasarkan pada cinta dan penghormatan yang serius dan mendasar terhadap isterinya sebagai pendamping hidup hingga pada kehidupan yang abadi. Cinta dan penghormatan tadi terus ada tidak hanya pada masa muda dan cantik, tetapi juga pada masa tua bahkan ketika kecantikan isteri telah sirna. Karenanya, seorang isteri harus mempersembahkan kecantikan dan cintanya hanya kepada suami sebagaimana hal itu merupakan tuntutan fitrah kemanusiaannya. Jika tidak, ia akan kehilangan banyak hal.

Selanjutnya Syariat juga menuntut seorang suami harus sepadan dengan isteri. Artinya, yang satu harus sesuai dan sejalan dengan lainnya. Dalam hal ini, kesepadanan yang terpenting tentunya adalah kesepadanan agama. Betapa bahagianya seorang suami yang melihat isterinya begitu religius sehingga ia pun berusaha mengikutinya dan menjadi orang yang taat agar tidak kehilangan isteri setianya di kehidupan akhirat nanti. Demikian halnya, betapa beruntungnya seorang isteri yang melihat suaminya begitu religius lalu ia tidak ingin kehilangan pendamping setianya itu di akhirat nanti sehingga ia menjadi orang yang bertakwa.

Sebaliknya, sungguh sangat celaka bagi seorang pria yang terjerumus dalam kemaksiatan yang membuatnya kehilangan isteri yang salehah selamanya. Demikian pula sungguh malang seorang isteri yang tidak mencontoh sua¬minya yang bertakwa sehingga ia berpisah dengan pendam¬ping abadinya yang mulia. Sungguh ribuan celaka pula bagi suami isteri yang saling mencontoh keburukan dan kemaksiatan yang ada sehingga keduanya saling menolong menuju neraka.

Hikmah Ketiga

Kebahagiaan keluarga dalam hidup ini bergantung kepada adanya rasa saling percaya, hormat yang tulus, dan cinta di antara suami isteri. Berhias dan memperlihatkan aurat tentu saja merusak kepercayaan, penghormatan, dan kecintaan di antara mereka. Sebab, sembilan dari 10 perempuan yang menampakkan aurat itu akan menjumpai para pria yang lebih ganteng daripada suami me¬reka.

Sementara hanya satu orang yang melihat pria yang kalah ganteng dari suaminya sekaligus tidak ia senangi. Hal yang sama terjadi pada kaum pria. Hanya satu dari dua puluh orang dari mereka yang melihat perempuan yang kalah cantik dari isterinya. Sementara yang lain melihat para perempuan yang lebih cantik daripada isteri mereka. Kondisi ini tentu saja membuka peluang untuk munculnya hasrat kotor di dalam jiwa, selain bisa melenyapkan kecintaan yang tulus dan penghormatan yang ada.

Hal ini disebabkan oleh adanya fitrah manusia yang tidak akan mempunyai pikiran kotor terhadap mahram, saudara perempuan misalnya, karena kemahraman tadi memunculkan sebuah kasih sayang dan kecintaan yang bersumber dari adanya hubungan kekeluargaan. Perasaan mulia itu tentu akan membendung keinginan nafsu syahwatnya. Hanya saja, membuka bagian badan yang tidak boleh dibuka bagi mahram pun, seperti betis, bisa membangkitkan hasrat kotor orang-orang yang berkepribadian buruk.
Wajah mahram menyadarkan akan adanya hubungan kekerabatan dan adanya posisi yang berbeda dengan orang lain.

Tetapi, menyingkap bagian-bagian tubuh yang terlarang seperti betis adalah sama saja berbahaya, baik bagi mahram ataupun bukan, sebab dalam betis tidak ada tanda pembeda yang memberitahukan kemahraman sehingga bisa menyebabkan selera pandangan hewani mahram yang bermartabat rendah bergejolak. Pandangan seperti ini tentu saja merupakan bentuk kejatuhan martabat manusia yang membuat kuduk kita merinding.

Membuka hijab dan berhias tidak memperbanyak pernikahan

Seperti telah diketahui bersama, banyaknya keturunan diinginkan oleh semua orang. Tidak ada satu umat atau bangsa pun yang tidak mendukung banyaknya keturunan. Rasul SAW bersabda: تناكحوا تكثروا فاني أباهي بكم الامم يوم القيامة “Nikah dan perbanyaklah jumlah kalian sebab aku bangga dengan banyak¬nya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain pada hari Kiamat”.

Membuka hijab dan berhias tentu saja tidak memperbanyak pernikahan, bahkan menguranginya karena betapapun bejatnya seorang pemuda, ia tetap menginginkan pasangan hidupnya suci dan tak ternoda. Ia tidak mau pasangan hi¬dupnya buka-bukaan seperti dirinya. Maka biasanya ia lebih memilih hidup membujang ketimbang menikah sehingga ia dapat terjerumus dalam kemaksiatan.
Sementara itu perempuan tidak seperti pria. Ia tidak bisa leluasa menentukan suaminya. Karena perempuan bertugas mengurus rumah tangga di samping menjaga anak, harta dan semua milik suami, maka sifat paling utama yang melekat padanya adalah setia dan bisa dipercaya. Berhias dan membuka aurat tentu akan merusak kesetiaan tadi dan menggoncangkan kepercayaan suami sehingga sang suami pun akan merasa sakit dan tersiksa.

Bahkan sifat keberanian dan kedermawanan yang merupakan tabiat terpuji bagi pria, jika keduanya terdapat pada perempuan ia dianggap sebagai sifat yang tercela karena kedua sifat itu bisa merusak kepercayaan dan kesetiaan sehingga menjadi akhlak yang buruk. Namun karena tugas suami tidak hanya terbatas pada mempercayakan harta dan mengikat hubungan dengan isteri, tetapi juga melindungi, mengasihi, dan menghormatinya, maka ia tidak seperti isteri, yakni pilihannya tidak terikat hanya pada seorang isteri sehingga bisa menikah dengan perempuan yang lain.

Negara kita tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Pada tahap tertentu, di sana kehormatan bisa lebih mudah dijaga dalam keadaaan aurat terbuka daripada di sini. Orang melihat isteri orang lain yang terhormat dengan pandangan kotor, sama saja dengan menyiapkan kafannya sendiri. Disamping itu, tabiat bangsa Eropa adalah dingin (tak acuh) sama seperti iklim mereka. Adapun di Asia, khususnya negara-negara Islam, ia termasuk negara yang bercuaca panas jika dibandingkan dengan Eropa.

Seperti diketahui, kondisi iklim dan lingkungan tersebut sangat mempengaruhi akhlak manusianya. Pada daerah yang dingin dan bagi orang-orang yang ‘dingin’, membuka aurat yang merangsang syahwat bisa jadi tidak sampai menimbulkan tindakan yang melampui batas. Sementara bagi orang-orang sensitif yang cepat terangsang yang tinggal di daerah panas, membuka aurat akan menyebabkan munculnya perbuatan yang melanggar dan melampaui batas.

Berhias dan penampakan aurat yang merangsang hawa nafsu dan syahwat tentu saja bisa memicu timbulnya pelanggaran, lemahnya keturunan, dan rusaknya semua kekuatan. Sebab dengan begitu, seorang pria yang membutuhkan penggunaan hasrat alamiahnya dalam sebulan atau dua puluh hari akan beranggapan bahwa nafsunya harus disalurkan pada setiap beberapa hari. Lalu karena ada penghalang fitri seperti haid yang menghalanginya untuk berhubungan dengan isteri selama kira-kira 15 hari, ia pun akan terjerumus ke dalam perbuatan nista ketika nafsunya sudah mendominasi.

Penduduk kota tidak mesti melepaskan hijab dengan melihat penduduk desa serta orang-orang badui sebab ketika bekerja, penduduk desa harus mengeluarkan tenaga fisik yang kuat untuk mendapatkan penghasilan dan seringkali para perempuannya ikut serta dalam berbagai pekerjaan berat sehingga tubuh keras mereka pun terbuka. Namun pekerja perempuan ini tidaklah tidak menarik perhatian lawan jenis dan merangsang syahwat pria sebagaimana perempuan kota. Karena di desa ada sedikit orang malang yang menganggur, maka kerusakan yang ada di desa tidak melebihi 10% dari apa yang ada di kota. Karenanya, kota tak bisa dibandingkan dengan desa.

#Sekian coretan hasil kopi & pasta risalah an-Nur buat kali ini.. 😛

p/s: Tak ada perempuan yang tidak cantik, semua cantik..cuma ada perempuan yang malas, tapi tak semua yang malas…teringat kata-kata seorang senior dulu ^^,

Advertisements

Dimanakah Muslimat Power?

Muslimat Power!
Sejarah Perjuangan Muslimat

Penglibatan muslimat dalam gerakan dakwah dan perjuangan menegakkan kalimatul haq di atas muka bumi ini bukan perkara baru. Malah ia berlaku sejak zaman Rasulullah SAW lagi.

Contoh yang ditunjukkan oleh muslimat terdahulu seperti isteri pertama Rasulullah SAW, Saidatina Khadijah menjadi wanita pertama yang menyahut seruan Iman. Seorang yang cukup setia menemani baginda dalam susah dan senang , tidak pernah berhenti berusaha menenangkan hati baginda, menjadi penyokong dan sumber kekuatan yang kuat kepada baginda. Saidatina Khadijah……. yang asalnya dari golongan bangsawan yang mempunyai harta yang banyak, menjadi sumber kewangan kepada perjuangan Islam ketika itu atas sifatnya yang sangat pemurah. Sehingga diriwayatkan, di akhir hayatnya, tidak ada harta yang tinggal padanya, semuanya diinfakkan ke jalan ALLAH SWT. Kewafatan Saidatina Khadijah membuatkan Rasulullah SAW berduka kerana kehilangan seorang isteri yang setia, pembantu
dan pembela baginda dalam melanjutkan tugas dakwah yang suci ini. Kata baginda;

“Allah tidak memberikan pengganti untukku yang lebih baik daripada Khadijah. Dia percaya kepadaku tatkala orang lain mengingkariku, dia membenarkan aku di kala orang lain mendustakanku, dia menyerahkan hartanya kepadaku tatkala orang lain menghalang aku, Allah mengurniakan keturunan melalui rahimnya tatkala aku tidak dapat daripada perempuan-permpuan lain (isteri-isteriku)”

Begitu dalamnya cinta dan sayang baginda kepada Saidatina Khadijah. Saya pasti, sukar untuk kita mencari wanita sehebat beliau dalam sejarah perjuangan muslimat hari ini.

Sejarah tidak melupakan kehebatan seorang wanita yang hebat dalam ilmu Al-Quran, hadis, ilmu fiqh, sejarah dan juga Bahasa Arab, iaitu juga salah seorang isteri baginda Rasulullah yang dikahwini pada usia yang begitu muda, Saidatina Aisyah r.a. Abu Burdah bin Musa dari ayahnya ada menerangkan bahwa ; “setiap sahabat yang menemukan kesulitan dan bertanya kepada Aisyah r.a pastilah mereka mendapat jawapan yang mantap dan ilmiah..” Tercatat juga dalam sejarah bahawa Saidatina Aisyah r.a adalah termasuk salah seorang daripada 7 orang Majlis Syura. Kehebatan Saidatina Aisyah r.a dalam bidang ilmu banyak membantu baginda dalam menyampaikan risalah dakwah terutamanya dikalangan kaum wanita.

Saya tampilkan juga seorang lagi pejuang muslimat yang cukup tegar di medan peperangan,penuh keberanian, Nusaibah binti Ka’ab. Nusaibah antara wanita yang ikut sama di dalam perang Uhud, yang tugasnya memberi minum kepada muslimin yang berperang dan terluka di siang hari. Namun di saat genting, ketika tentera muslimin dalam porak poranda akibat tidak mengikuti arahan baginda Rasulullah, beliau segera mendekati Rasulullah dengan pedang dan anak panah sebagai pelindung kepada baginda. Di dalam peperangan ini, dengan keberanian yang ada pada Nusaibah, beliau telah mendapat luka yang teruk di seluruh badannnya di mana luka itu mengambil masa selama satu tahun untuk sembuh. Nusaibah sehingga kini disebut sebagai Srikandi Perisai Nabi.

Seorang lagi srikandi yang saya suka untuk kongsikan di sini iaitu, Sumayyah, orang pertama yang bergelar syahid. Kerana teguh dengan keimanan, beliau diseksa dengan begitu kejam sekali oleh Abu Jahal. Beliau dipakaikan baju besi dan dijemur dibawah terik panas matahari yang membakar. Kerana keteguhan inilah, Abu Jahal telah merejam beliau dengan tombak sampai mati. Teringat saya akan bait-bait indah dalam lagu yang disampaikan oleh kumpulan Hijjaz akan perjuangan syahidah pertama ini.

Sabarlah keluarga Yasir bagimu Syurga di sana
Dan kau pen tega memilih syurga
Walau terpaksa berkorban nyawa
Lalu tombak yang tajam menikam jasadmu yang tiada bermaya
Namun iman di dadamu sedikit tidak berubah

Darahmu menjadi sumbu pelita iman
Sumayyah kau lambang wanita solehah
Tangan yang disangka lembut menghayun buaian
Menggoncang dunia mencipata sejarah

Bait lagu ini pernah menanam satu semangat dan keinginan yang tinggi dalam hati dan jiwa saya untuk menjadi seorang insan yang berbakti kepada agama selama kehidupan ini.

Ramai lagi pejuang muslimat yang boleh dijadikan contoh dan ikutan kita di zaman ini. Cumanya, saya tampilkan empat srikandi ini untuk saya rumuskan beberapa perkara.

Pertama, seorang isteri itu perlu ada kesetiaan dan rela hidup bersama dengan suami dalam senang dan susah. Tidak kira dalam kondisi dia seorang yang berkerjaya, yang lebih tinggi gajinya daripada suami, ataupun yang mempunyai pangkat yang tinggi dalam jamaah berbanding suami. Kesetiaan ini, mampu memberi impak yang tinggi kepada si suami dalam meneruskan perjuangan seperti setianya Saidatina Khadijah kepada baginda Rasulullah SAW. Susah senang suami dapat dirasai bersama oleh isteri dan sentiasa berada di sampingnya untuk memberikan semangat kepada suami.

Kedua, seorang isteri perlu ada kemahiran psikologi yang baik. Ilmu kejiwaan ini sangat membantu dalam kehidupan suami yang berada dalam gerakan dakwah ini. Mereka yang berjaya menguasai ilmu psikologi ini dapat membantu suami dalam perjalanan dakwah dengan tenang di samping pertolongan dari ALLAH.

Ketiga, kepentingan ilmu. Muslimat yang ingin berada dalam gerakan dakwah, perlu ada ilmu. Agar perjuangannya mempunyai sandaran dan asas. Imam Hasan Al-Banna sendiri meletakkan rukun pertama dalam arkanul bai’ah ialah FAHAM. Untuk memahami, muslimat harus dilengkapkan dengan ilmu dan menyampaikan juga berdasarkan ilmu. Sebagaimana Saidatina Aisyah r.a yang menjadi gedung ilmu, begitulah juga muslimat pada hari ini. Yusuf Qardhawi menyebut, adalah wajib bagi setiap wanita terhadap orang tuanya, anak-anaknya, serta kawan-kawan sejantina dengannya, untuk menganjurkan pembersihan aqidah dan tauhidnya dari pengaruh di luar Islam. Dan kewajipan ini memerlukan ilmu.

Keempat, muslimat harus berani. Muslimat kadang-kadang perlu dibelakang sebagai pendorong dan pembantu, namun ada masa dan ketikanya harus di hadapan. Sebagaimana Nusaibah yang asalnya bergerak sebagai pemberi air dan perawat luka tentera muslimin, namun, di saat yang genting, memerlukan dia untuk tampil ke hadapan berjuang di medan peperangan. Muslimat sebagai isteri solehah, ibu mithali, keutamaannya adalah mendidik anak-anak, namun tidak bererti dia harus meninggalkan lapangan dakwah dalam konteks masa kini yang memerlukan tenaga muslimat di lapangan dakwah. Jadi, harus bijak bertindak. Bagaimana? Rancang dan fikirlah.

Kelima, mujahadah dan kesabaran yang tinggi. Indahnya kesabaran dan semangat jihad yang ditunjukkan oleh Sumayyah dalam mempertahankan aqidahnya. Hakikat kehidupan dalam perjuangan, jika mudah dan senang itu, bukan dinamakan perjuangan. Sabar kita dalam berkerjaya, sabar kita dalam menguruskan rumahtangga, sabar kita dalam menyampaikan dakwah. Andai hilang kesabaran, rebahlah kita di pertengahan jalan.

dari: http://u-jam.blogspot.com/2011/01/dimanakah-muslimat-power.html